Narsis, Loe!

Narsis, loe!

Kita mungkin sering mendengar kata-kata seperti itu. Biasanya itu kata-kata yang kerap dilontarkan oleh teman-teman kita ketika sedang bersenda gurau, saat mereka merasa ‘keki’ ketika kita memuji diri sendiri. Paling sering mendapat kata-kata seperti itu, ketika mereka melihat hasil foto ‘selfie’ kita. :-))

Narsis menurut KBBI merupakan kata benda, adalah nama dari sebuah tumbuhan yang berbunga putih, krem, atau kuning. Tumbuhan ini banyak ditemukan di daerah sub tropis.

Lantas, apa hubungannya dengan kata narsis yang sering dilontarkan oleh teman-teman kita seperti contoh di atas tadi? Kata narsis seperti contoh di atas ternyata merupakan kata yang termasuk di dalam bahasa gaul. Kata tersebut memiliki arti akan kecintaan kepada diri sendiri yang berlebihan.

Jadi, sebenarnya, kata narsis itu bermula dari yang mana? Yang menggambarkan bunga atau kecintaan kepada diri sendiri?

Narsis berasal dari nama seorang tokoh dalam mitologi Yunani. Konon, pada waktu itu, adalah seorang pemuda yang bernama Narsiskus. Ia adalah putra dari dewa Sungai, Kifisos dan seorang peri. (Kifisos merupakan nama suatu sungai di Yunani).

Narsiskus memiliki wajah yang tampan rupawan. Dia sendiri menyadari akan hal itu dan merasa bangga karenanya. Meski tampan rupawan, Narsiskus merupakan sosok pemuda sombong. Ia menganggap bahwa tak ada yang bisa menandingi ketampanannya di dunia.

Di antara para dewa dan manusia, hanya Narsiskus saja yang belum pernah tertembus oleh anak panah Eros. Hatinya tak tergetar oleh cinta. Padahal, banyak yang jatuh hati kepadanya, termasuk para peri.

*Eros adalah anak Dewi Keindahan dan Cinta, Afrodite. Dikenal juga sebagai Cupid atau Amor. Tugas Eros adalah membantu manusia dan dewa dalam urusan percintaan. Anak panahnya tidak akan meleset. Dan, hati yang tertembus oleh anak panahnya akan dipenuhi oleh rasa cinta.

Hati para peri akan berdebar-debar jika melihat Narsiskus yang gemar berjalan-jalan di hutan. Hal ini membuat Narsiskus merasa sangat bangga dan pongah. Ia tak pernah jatuh cinta, tetapi ia sangat senang jika melihat orang lain tergila-gila kepadanya. Rasa bangganya akan semakin menjadi setiap kali ia melihat usahanya untuk membuat orang mabuk kepayang itu berhasil.

Adalah seorang peri, Ekho namanya. Ekho merupakan seorang peri yang cantik jelita. Tetapi, meski jelita, Ekho adalah peri yang mengalami kesulitan ketika berbicara. Ia hanya mampu mengulangi kata terakhir dari kalimat yang didengarnya.

Seperti peri-peri yang lain, Ekho pun terpesona dan jatuh hati kepada Narsiskus. Ekho jatuh cinta pada pandangan pertama ketika suatu hari ia melihat pemuda tampan itu berjalan-jalan di hutan.

Selama hidupnya, Ekho belumpernah melihat ketampanan yang sempurna seperti yang dimiliki oleh Narsiskus. Tetapi, Ekho merasa malu untuk berhadapan langsung dengan Narsiskus. Jadi, dia hanya berani mengagumi pemuda tampan itu dari balik semak.

Narsiskus mengetahui hal itu. Ia tahu bahwa Ekho jatuh cinta kepadanya. Maka seperti biasanya, ketika mendapati hal itu, sikap pongahnya pun muncul. Narsiskus yang mengetahui sang peri mengikutinya dari balik semak, kemudian ia tiba-tiba berteriak menyuruh Ekho untuk menampakkan dirinya.

Ketika mendengar Narsiskus memintanya untuk memperlihatkan diri, ” Tunjukkan dirimu!”, Ekho pun menjawab dengan riang gembira, “..dirimmuuuu”. Sambil menjawab, sang peri pun muncul dari balik semak-semak, berlari mendekati Narsiskus.

Ekho pun tertegun ketika berhadapan dengan Narsiskus. Sang peri merasa terpukau melihat ketampanan pemuda itu. Ekho sendiri memiliki kecantikan yang sangat. Tetapi hal itu tak bisa meluluhkan hati Narsiskus.

Hati Narsiskus merasa sangat puas. Tetapi, bukan senang karena ia bertemu seorang peri yang cantik jelita. Tetapi, ia merasa senang karena melihat sang peri tercengang, kagum akan ketampanannya.

Melihat hal itu, sikap pongahnya pun muncul seperti biasa. Dengan membentak kasar, Narsiskus pun mengusir Ekho yang kemudian menjauh sambil menangis karena malu dan kecewa.

Afrodite yang melihat hal itu merasa kesal. Sang dewi merasa tak dapat lagi membiarkan sikap Narsiskus terus berlanjut tanpa diberi hukuman. Maka. ia pun memminta Eros, anaknya, untuk melepaskan anak panahnya kepadaNarsiskus.

Maka, pada suatu hari, ketika Narsiskus berjalan-jalan di hutan seperti biasa, pemuda itu merasa haus dan ingin minum. Kemudian ia pun mendapati sebuah kolam yang tempatnya sangat tenang. Kolam itu terlindung dari tiupan angin. Airnya sebening kristal. Sangat bening bagaikan cermin. Sehingga, segala sesuatu yang berada di sekitarnya akan memantulkan bayangan pada permukaan airnya.

Narsiskus pun membungkuk untuk minum. Ketika ia melihat bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di permukaan air, secara bersamaan, Eros pun melepaskan anak panahnya yang langsung menembus hari Narsiskus.

Ternyata,Afrodite telah menyuruh Eros untuk memanah hati Narkisus agar pemuda itu jatuh cinta kepada wajahnya sendiri.

Narsiskus melihat pantulan wajah tampan di permukaan air. Selama hidupnya, ia belum pernah melihat wajah setampan itu. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah pantulan wajahnya sendiri.

Pemuda tampan nan pongah tersebut akhirnya terkena anak panah Eros. Sekejap kemudian, Narsiskus pun diliputi oleh perasaan cinta, mabuk kepayang terhadap pantulan wajahnya sendiri.

Seakan tak ada puasnya Narsiskus memandang wajah tampan di permukaan air kolam yang sangat bening itu. Berkali-kali tangannya berusaha meraih bayangan tersebut. Bayangan di permukaan air kolam itupun membuat gerakan serupa. Berkali-kali pula, gerakan Narsiskus membuat permukaan air menjadi bergetar dan wajah di atas permukaan air itu pun menjadi terburai.

Meski merasa kesal dan putus asa karena tak jua berhasil meraih wajah yang ada di permukaan air itu, Narsiskus tetap berlutut di sisi kolam itu tanpa makan dan minum. Sejak terkena anak panah Eros, Narsiskus melewati hari-harinya tanpa beringsut sedikit pun dari sisi kolam itu.

Sama sekali tak terlintas dari pikirannya untuk meninggalkan wajah yang telah membuatnya jatuh cinta, meski tubuhnya semakin kurus dan melemah. Sementara, bayangan wajah itu tak kunjung dapat diraihnya.

Sampai satu ketika, akhirnya Narsiskus mendapati bahwa wajah tampan yang dilihatnya itu adalah bayangan dari wajahnya sendiri. Dia pun merasa kecewa sekali. Tetapi, meskipun demikian, Narsiskus tak juga meninggalkan tempat itu sampai ajal menjemputnya. Wajah kurus dan pucat membayang di permukaan air kolam yang bening dan tenang tersebut.

Kematian Narsiskus membuat seluruh peri dan penjaga hutan meratapi kepergiannya.Ekho lah yang paling merasa berduka. Bagaimanapun, peri cantik ini telah jatuh hati kepada pemuda tampan itu.

Karena duka yang mendalam, Ekho tak berhenti menangis di samping tubuh Narsiskus yang telah kehilangan nyawanya. Sampai suatu saat, akhirnya dia tertidur. Dan, ketika bangun, Ekho mendapati tubuh Narsiskus tak ada di sampingnya, berganti dengan sekuntum bunga yang harum. Bunga tersebut kemudian diberi nama Narsis. (saat ini, bunga narsis biasanya dipakai pada upacara kematian).

Yup, seperti itulah cerita asal usul kata ‘narsis’. Pesan moral dari cerita di atas adalah : jangan sembarang minum air kolam yang airnya bening. Karena, nanti kita akan jatuh cinta pada bayangan wajah kita sendiri,

Ha..ha..

^_^v

Sharing is caring!