Ketika Dia Meninggalkanmu Tiba-Tiba

Ditinggalkan seseorang merupakan sebuah perasaan yang dapat membuat hati serasa hancur, luluh lantak. Apalagi ditinggal oleh seseorang yang kita sayangi. Karena, sebenarnya, bagaimanapun kita menyiapkan diri, tokh..kita pasti merasa sedikit terguncang ketika saat ditinggalkan itu tiba. Baik ditinggalkan karena yang kita sayangi dipanggil oleh Yang Maha Kuasa ataupun meninggalkan kita karena beralih ke lain hati. 😀

Tapi, bagaimana pun, siap atau tidak untuk ditinggalkan, kita harus bisa menerimanya. Karena, itu adalah salah satu bagian dari kenyataan. 

Pernah merasakan hal seperti itu? Atau saat ini sedang mengalami hal seperti itu?

Saya pernah. Ha..ha..Dipikir-pikir, pengalaman saya, koq, yang seperti ini terus, ya?..:-))

Kalau pernah atau saat ini sedang mengalami, yuk, kita berbagi cerita. Bukan..ini bukan solusi ilmiah dari seorang pakar. Beneran, deh. Ini memang murni hasil pengalaman saya sendiri. Karena, saya telah mengalami beberapa kasus ‘ditinggalkan’. Tentunya, oleh orang-orang yang saya sayangi. Juga saya kasihi. 

KETIKA DIA MENINGGALKANMU TIBA-TIBA A

Saya pernah mengalami ‘ditinggalkan’ pas lagi sayang-sayangnya oleh si dia, yang sekarang statusnya sudah sebagai ‘mantan’, tentunya. (ga perlu ditegesin, kaleee..ha..ha..). Hati rasanya hancur? Pastilah. Apalagi ditinggalkan tanpa tanda-tanda atau pesan. Bingung, panik, curiga, kesal, penasaran, dan perasaan-perasaan senada lainnya bercampur aduk di dalam hati dan pikiran.

Saya sadar, perasaan campur aduk yang rasanya tidak menyenangkan itu dapat mengganggu kelangsungan hidup kita sendiri, seebnarnya. Terutama ketentraman dan kenyamanan. 😀 

Rasa yang tidak keruan itu dapat menghambat kita melakukan aktivitas sehari-hari. Karena, pikiran dan hati kita dipenuhi tanda tanya besar tentang si dia yang kabar beritanya entah kemana. 

Saya dulu seperti itu. Tetapi, untungnya, peristiwa itu terjadi setelah saya mengalami patah hati pertama saya. Ha..ha..Ketauan banget, deh, saya sudah beberapa kali mengalami patah hati. Yah, jujur saja. Jika hati ini diibaratkan sebagai roda sepeda, tentunya sudah banyak terdapat tambalan-tambalan di sekelilingnya. Karena, sering bocor. Ha..ha..*perumpamaannya gini amatan, yak?*..

Waktu ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu, yang pasti saya rasa dan lakukan pertama kali adalah kebingungan. ha..ha..Gairah juga semangat seperti menguap, sehingga rasanya malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, aktivitasa-aktivitas dasar manusia hidup lazimnya, seperti mandi, makan, tidur. Bayangkan, tidur saja malas! *tutup muka* 

Hubungan saya dengannya belum lama, memang. Waktu itu, baru berusia7 bulan. Ketika itu, pesan-pesan saya tak pernah mendapat balasan. Juga, panggilan lewat telepon dari saya tak pernah mendapat sambutan. Saya bertanya-tanya, dunk. Ada apa? Apa yang sedang terjadi dengannya?. Terlintaslah pikiran-pikiran buruk yang menimpanya. Ha..ha..

Tapi, saat ini, saya sarankan, jika mengalami hal seperti itu, buanglah pikiran-pikiran buruk seperti itu. Sama sekali tak ada peristiwa buruk yang menimpanya. Dia dalam keadaan baik-baik, saja. Percayalah! 😀

Saya kemudian sadar ketika semua usaha saya untuk berkomunikasi dengannya tidak mendapat respon apapun. Dia meninggalkan saya. Tanpa pesan apapun. Berbagai macam pertanyaan muncul di benak dan di kepala. Kenapa tiba-tiba dia meninggalkan. Kenapa tak ada kata-kata keputusan darinya? Bukankah saya juga butuh penjelasan? 

Setidaknya, jika memang ada kesalahan yang  telah saya perbuat, saya bisa memperbaikinya. Atau, misal hanya kesalahpahaman, saya juga bisa menjelaskannya. Dan, bila memang hubungan itu tidak bisa lagi diperbaki, saya dan dia dapat mengambil keputusan. Sehingga, saya juga dapat enentukan sikap selanjutnya. 

Tapi, terkadang, kenyataan terjadi tidak seperti yang kita harapkan ataupun bayangkan. Dan, sekali lagi, hidup tetap berjalan. Yang harus kita lakukan, ya..hanya ‘move on‘.

Mungkin, karena sudah pernah mengalami patah hati yang pertama, jadi yang ke dua ini, saya lebih cepat mengatasinya. Yahhhh, walaupun, tetap saja takkan pernah bisa ‘terbiasa’ dengan yang namanya ditinggalkan. 😀

Menurut saya, yang harus kita sadari dari awal ketika hal ini terjadi..

1. menerima kenyataan

Mengapa menerima kenyataan menjadi hal yang pertama kita lakukan? Karena, bagaimanapun kita hidup dalam kehidupan nyata. Kita tak bisa hidup dalam dunia mimpi kita atau mimpi orang lain. Meski tak mendapat kata-kata keputusan darinya, tapi kenyataannya adalah dia telah pergi meninggalkan. 

Tak ada respon darinya juga dapat kita jadikan sebagai sebuah jawaban dari pertanyaan kita. Hubungan saya dan dia telah berakhir. Itu adalah bagian dari kenyataan yang harus saya terima. 

2. berhenti menyalahkan

Usahakan tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Terutama menyalahkan diri sendiri. Jangan berpikir bahwa kata-kata atau sikap kita telah membuatnya mengambil keputusan meninggalkan kita. 

Karena, jika ada salah satu pihak yang dianggap berbuat kesalahan, bukankah seharusnya diberi kesempatan untuk menjelaskan? Bahkan, mungkin, untuk diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan. Bukan langsung pergi meninggalkan. 

Tetapi, jangan juga menyalahkannya. Meninggalkan kita adalah pilihannya. Dan, pilihan seseorang tidaklah jadi suatu yang bisa disalahkan. Kita harus menghargainya, meski dampaknya membuat diri kita menderita. Ha..ha..

3. percaya bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya

Mungkin ini merupakan kalimat klise. Tetapi, memang seperti itu adanya. Ketika saya mengalami patah hati kedua ini, saya lebih merasa yakin bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Saya nangis? Iya, tapi sebentar. Cuma sehari. ha..ha..

Saya memang masih merasa sedih, hancur, terluka, sakit hati, dll..Tapi, saya berkeyakinan, seiring berlalunya waktu, rasa sakit pun akan berlalu. Ingatan tentang dia pun akan berlalu. 

4. merasa bebas

Mungkin akan sulit rasanya untuk merasa ‘sendiri’ lagi. Kebersamaan dengan si dia dulu pastinya masih membuat ‘kagok’ ketika harus melakukan apa-apa sendiri. (kagok itu bahas sunda. Yang artinya ‘kikuk’)

Padahal, kita telah bebas. Tetapi, tak bisa dipungkiri, bahwa kebebasan itu juga disertai oleh rasa sedih. 😀

Salah satu yang paling saya rasa membuat saya sangat sedih itu, ketika sadar tak akan ada lagi pesan ‘wajib lapor’ yang dikirim ketika salah satu sedang melakukan aktivitas dengan yang lain. Tak ada lagi ‘sesi curhat’ ketika salah satu mengalami hari yang rasanya ‘tidak keruan’. Untuk awalnya, hal itu terasa sangat sedih. He..he.

Kebiasaan memang salah satu hal yang sulit untuk diubah. Tetapi, bagaimanapun kita harus bisa untuk terbiasa dengan keadaan yang baru. 

Dia telah pergi. Dan, sudah semestinya, dia bukanlah lagi menjadi pertimbangan untuk hal-hal yang saya akan lakukan. Apakah dia akan suka? Apakah dia tak akan suka? Apakah dia akan marah kalau saya melakukan ini? Saya tidak lagi mempertimbangkan lagi hal-hal seperti itu. 

Mulai saat ini, yang saya lakukan adalah hal yang saya suka. Dan, saya berusaha apa yang saya lakukan tidak merugikan orang lain. Saya berpikir seperti itu ketika saya mengalami patah hati ke dua itu.

5. membangun kepercayaan diri

Patah hati bisa menimbulkan menurunnya rasa percaya diri. Merasa diri serasa tak berarti. Apalagi, ketika patah hati berkali-kali. Ha..ha..Tapi, ga, tuh. Saya waktu patah hati kedua itu, meski bersedih, tapi tidak terlalu menurunkan rasa percaya diri. 

Dia meninggalkan saya berarti saya bukanlah pilihan yang tepat menurutnya. Tentunya, berpikir seperti itu pun meski untuk sesaat dapat menimbulkan rasa kecewa, hancur, diri tak berguna, dll. 

Tapi, kemudian, saya berpikir lagi.Tak dipilih olehnya bukan berarti diri saya tak berguna, tak ada artinya. Dia bukan penentu apakah saya berharga atau tidak. Apakah saya buruk atau tidak. Setiap orang punya sisi baik dan buruk. Berarti, yang saya punyai tak melulu hanya sisi buruk. Banyak sisi baik yang juga saya miliki. 

***

Yup, kira-kira seperti itu ketika saya menghadapi pengalaman patah hati ke dua saya. Dalam hati, saya berpikir, semestinya pikiran-pikiran juga sikap-siap seperti itu telah saya lakukan ketika mengalami patah hati pertama dulu. Tapi, anggap saja, pengalaman pertama menjadi contoh bila satu saat kita mengalami hal seperti itu lagi. 

Tentunya, kita juga tak mau mengalami jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali, bukan? Apakah kita masih mau berlama-lama menangisi seseorang yang meninggalkan kita?

Yang pastinya, ketika dia memutuskan untuk meninggalkanmu, itu bukanlah akhir dari segalanya. Yang harus kita ingat dan segera sadar adalah hidup masih terus berjalan. Dan, kita adalah individu yang juga memiliki banyak kelebihan. 

Patah hati bisa dianggap sesuatu pelajaran positif. Karena, kita diajarkan untuk dapat melepaskan, ikhlas hati, dan tidak memaksakan. Bagaimanapun hebatnya rasa cinta kita kepada seseorang, tetapi bila tidak bersambut, tidaklah berarti apa-apa.  

Yup, bagaimanapun, patah hati adalah suatu proses. Proses apapun pasti membutuhkan waktu dan usaha. Selayaknya, kita nikmati saja proses yang berjalan. Nikmati sedihnya sambil kita nantikan sembuh hatinya. Karena, hidup memang masih terus berjalan..Dan, sudah seharusnya..hidup tak melulu diisi dengan tangis. Tapi, juga tawa ceria.

Semangat!!

Semoga hatimu cepat sembuh!!

^_^

Sharing is caring!