Patah Hati Karena Putus Cinta? Mup On Yuk?

PATAH HATI KARENA PUTUS CINTA 'MUP ON', YUK

Setiap orang pasti pernah mengalami sedikitnya satu kali patah hati. Meski, kata ‘setiap’ kurang tepat juga, sih. Karena, mungkin, masih ada orang yang belom atau bahkan ga pernah mengalami patah hati seumur hidupnya.

Saya sendiri pernah mengalami patah hati. Bukan sombong, sih. 😀 Dan, rasanya ituh! ..WOW!!..Sakit!. :-)) 

Seperti kebanyakan ‘kasus’ patah hati lainnya. <<kasussss>> :-))..kasus patah hati yang pernah saya alami juga datangnya tiba-tiba. Saya sama sekali ga nyangka bakal mengalami hal seperti itu. Karena, saya merasa semua dalam keadaan baik-baik saja waktu itu. Sehari sebelumnya, saya masih menerima pesan-pesannya seperti biasa. 

Dulu itu. biasanya, pesan ‘cute‘ darinya merupakan pesan pertama yang saya terima ketika membuka hari. Pesan cinta-nya merupakan hal terakhir yang mengantarkan saya ke alam mimpi. Pokoknya, hari-hari yang dilalui sangat menyenangkan lha, ya….Apalagi, hubungan saya dan dia itu memang serius. Dua keluarga sudah saling mengenal, dan tentunya kita semua saat itu juga memikirkan untuk selanjutnya mebawa hubungan kita berdua melangkah ke jenjang pernikahan. *maafkan kalo curhatnya agak lebay* :-))

Semuanya baik-baik saja..hingga, suatu hari..eng..ing..eng..Saya juga ga tau kapan hal itu bermula. Pesan yang saya terima darinya pagi itu isinya memutuskan hubungan yang berjalan hampir 5 tahun lamanya. Jujur, saya kaget sekali. Tak percaya tapi ini terjadi. (halahhhh..jadi nyanyi)….:-)) Saya histeris, meski dalam hati.

Tiba-tiba, saya merasa sendiri. Saya merasa linglung. Bukan semata-mata membenarkan apa yang ada di lirik-lirik lagu patah hati, tapi saya memang merasakan hal persis seperti itu. Pasca di-phk (baca : putus hubungan kekasih) itu, saya selalu berpikir bahwa untuk ke depannya, saya ga akan merasakan cinta seperti itu lagi. Tetapi, kali ini, saya kasih tau juga kalo pemikiran seperti itu SALAH!. :-)) Karena, setelahnya, saya masih bisa merasakan jatuh cinta dan cinta yang lebih dari itu. *cieeee...:-))

Semua orang tentulah punya cara masing-masing untuk mengatasi masalahnya. Dan, tulisan saya ini bukan untuk memberi nasehat tetapi sekedar berbagi hal-hal yang telah membantu saya sehingga bisa keluar dari rasa sakit karena patah hati. (bahasanya gini amatan, yak?) 😀 

Menurut saya, meskipun tidak diburu waktu, karena lambat atau cepat itu relatif, tapi, kita memang harus bisa ‘mup on‘. 

Berapa lama bisa sembuh dari sakit patah hati masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang hanya dalam hitungan hari atau minggu. Tetapi, ada juga yang sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. 

Karena, patah hati juga merupakan suatu penyakit, menurut saya. 😀 Jadi, layaknya penyakit, kita membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya. Lambat ataupun cepat sebenarnya tidak menjadi masalah. Yang penting harus sembuh. Siapa, sih, yang mau berlama-lama sakit dan ga mau sembuh?

Ketika patah hati waktu itu, meski tidak tergolong cepat (kata orang-orang), akhirnya saya bisa keluar dari rasa sangat yang tidak menyenangkan itu. Saya ingat waktu itu hal-hal yang saya lakukan selain berusaha untuk tetap hidup, adalah :

1. Nangis

Yang pasti, ketika saya di-phk waktu itu, Saya merasa sangat sedih, kecewa, marah, malu, bingung, dan perasaan-perasaan kelabu lainnya. Kalau saya lukiskan dngan kata-kata pasti memberi kesan ‘berlebihan’. 😀

Yang pasti, yang pertama Saya lakukan saat itu, nangis. he..he..Iyah, nangis! Karena, mau mengingkari kalo kita lagi bersedih juga susah. Apalagi merasa semuanya sedang baik-baik saja, boro-boro, lahWong, lagi sedih. Dan, memang, semuanya sedang tidak baik-baik saja. 

Jadi, kalau sedang patah hati itu kita juga memang diberi kebebasan untuk bersedih, juga menangis. Anggap saja sebagai masa berkabung. Kan, memang ada yang ‘mati’. Cinta ‘aku dan dia’. Halaahhhhhh..lebaayyyy..Ha..ha..

Meski bebas untuk bersedih tapi usahakan jangan terlalu lama. Menangislah, tapi jangan selamanya.

Waktu itu, saya berkabung selama 2 minggu. Selama masa berkabung itu, setiap harinya pasti ada diisi dengan saya yang sedang nangis. Kalau ingat waktu itu, saya jadi malu sendiri. Setiap ingat sang mantan, saya nangis. Ingat sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya, nangis. Dengar lagu-lagu melo, nangis. Haduhhhhhhh!!..Lebay banget!

Kata Ibu saya waktu itu : “Lebay, Neng!“..(ha..ha..) Nah, sejak dibilang ‘lebay’ itu, saya jadi berhenti menangisinya lagi. Tapi, masih mengharapkannya. *keukeuh*

2. Terima kenyataan

Pasca di-phk itu, Saya seperti susah menerima kenyataan. Saya masih mengharap pesan atau telpon darinya bahwa dia menyesali keputusannya. Terus berharap dia akan meminta maaf dan meminta untuk kembali lagi. Dalam benak, saya kerap mengingkari bahwa hubungan yang sudah berakhir itu bukan nyata. Tapi, ya..sebaiknya jangan seperti itu. Karena kenyataannya memang ga seperti itu.

Meski ada beberapa orang yang akhirnya merajut kembali hubungan kasihnya dengan sang mantan, tetapi itu di kemudian hari. Bagaimanapun, kita tetap harus melewati dulu masa putus dan masa pasca putusnya. 

Saya akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa semua sudah berakhir ketika tidak ada lagi pesan-pesan darinya yang saya terima. Pun, berhenti menangis. Tetapi, saya belum bisa ‘mup on‘.

3. Singkirkan benda-benda yang membangkitkan kenangan

Setelah menerima keputusan di-phk itu, meski ada perasaan ‘sayang’ , saya menyingkirkan semua barang yang berkaitan dengan dirinya. Termasuk foto-foto di telepon seluler. Bahkan, ada beberapa barang pemberiannya yang saya kirim balik kepadanya. 

Untuk hal yang terakhir itu, ada yang menyarankan untuk tidak mnegirim balik barang pemberiannya. Karena, bisa jadi, sang mantan pun kemudian akan membalas dengan cara yang sama, mengirim balik semua barang pemberian kita. Dan, tentunya, hal itu akan menambah rasa sedih juga sakit hati kita. Belum lagi kita akan merasa bingung dengan barang-barang yang dikirim balik itu, akan dikemanakan?..

Untungnya, sih, waktu itu, dia ga kirim balik barang pemberian Saya. 😀

4. Putus kontak

Memutus kontak dengan sang mantan semestinya ‘kudu’ dilakukan sesegera mungkin, baik hanya untuk sementara maupun permanen. Kalau bisa, begitu keputusan dijatuhkan, langsung hapus semua kontak dengan sang mantan. 

Waktu itu, saya langsung menghapus kontaknya di telepon seluler, juga meng- unfriend bahkan mem-block akun-akunnya di media sosial.

Tapi, jujur saja, saya itu termasuk tipe ‘penasaran’. Jadi, fase ‘putus kontak’ dengan sang mantan itu kadang saya langgar. Saya jadi ‘buka-tutup’ akunnya. :-))

Ketika rasa penasaran muncul sangat kuat, Saya pasang kembali nomor teleponnya, juga tidak mem-block lagi akun-akunnya di media sosial.

Saya jadi ‘penguntit’-nya di medsos. Kebetulan, Saya juga berteman dengan beberapa saudaranya. Jadi, ketika Saya tidak menemukan apa yang Saya cari di profilenya, Saya kemudian mencarinya di akun saudara-saudaranya. 

Saya ingin tahu apa yang sedang terjadi dengannya? Apa dia merasa bersedih juga? Apa dia menyesali keputusannya? Apa dia sudah menghapus foto-foto ‘kita’? Apa dia sudah mengganti ‘status relationship‘-nya? Yang pastinya kesemuanya itu pekerjaan tidak berguna. Sama sekali ga berguna!..:-D

Waktu itu, meski saya sudah tidak menangis lagi, tapi kemudian berganti dengan rasa penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi di kehidupannya. Sampai satu saat akhirnya Saya melihati dari akun salah satu keponakannya bahwa dia menikah. Dan, selang beberapa hari kemudian, Saya melihat di profilenya, foto saya sudah dihapus dan status relationship-nya sudah berubah. Ada rasa penasaran yang terpuaskan. Tapi, juga diiringi kesedihan, yang sangat.

Itu terjadi 3 bulan kemudian setelah saya di-phk olehnya.Tapi, sejak saat itu, Saya berhenti mengharapkan dia. Juga berhenti menjadi ‘penguntit’. Kapok!..:-))

(Sebenarnya menjadi penguntit itu berguna, sih. Asalkan harus kuat mental ketika akhirnya kita melihat yang terjadi di kehidupannya. Setidaknya, apa yang saya lihat itu membuka mata saya. Jadi, saya tidak mencari-cari alasan pasti lagi mengapa dia memutuskan hubungan tiba-tiba).

Tapi, semestinya memang, putus kontak itu harus dilakukan, dan kita memang harus ketat kepada diri sendiri untuk tidak melanggarnya. Daripada menambah rasa penasaran juga sakit hati. Iya, kan?

5. Berhenti membicarakannya

Bercerita tentangnya, meski yang kita bicarakan tentang kekecewaan kita terhadapnya, tapi sebenarnya aktivitas tersebut masih terasa menyenangkan. Di bibir mungkin kita mengumpat-ngumpat kepadanya, tapi sebenarnya saat itu, dalam hati kita juga masih berharap. 

Bisa dibilang. membicarakan tentangnya saat itu juga jadi salah satu obat penawar rindu. Padahal, ‘kita’ sudah tidak punya hubungan apa-apa. 😀 Sebenarnya, hal ini tidak menjadi masalah sepanjang lawan bicara kita merasa OK saja menampung keluhan kita. 

Tapi, kalau kita terus membicarakannya, mana bisa kita melupakannya? Karena, berarti si Dia masih selalu ada dalam ingatan kita. Belum lagi orang yang kita ajak bicara. Bisa jadi mereka pun akhirnya merasa bosan karena topik yang kita bicarakan melulu soal si Dia.

Awalnya, selama 2 minggu, dulu, saya seperti itu. Sampai satu ketika, ketika saya mulai curhat soal saya dan sang mantan lagi, tiba-tiba, adik saya ‘nyeletuk’ : “Kelamaan, mba..Ngomonginnya beginian terus.”

Ceeeeeppppp!! *langsung mingkem* :-))

Sejak saat itu, saya ga pernah lagi membawa topik tentangnya di forum-forum manapun juga. Meski, ketika sudah ‘mup on‘, saya sesekali masih membawa topik itu. Seperti saat ini. Tapi, karena saya memang merasa sudah ‘mup on‘. Dan menjadikannya sebagai pelajaran juga pengalaman. 😀

Dan, kalau dipikir-pikir, memang membicarakan sang mantan pasca di-phk, lebih aman kalau berbicara lewat tulisan. Tapi, tetap jangan terlalu lama. Mencurahkan segala uneg-uneg tentangnya lewat rangkaian kata lebih tidak mengganggu dan menjaga ketentraman lingkungan di sekitar kita. :-))

6. Cari kesibukan 

Untuk awalnya, mungkin memang agak sulit. Karena, pikiran kita dipenuhi melulu soal dia dan kenangan-kenangan tentangnya. Tapi, minimal 2 minggu setelahnya, cari kesibukan. Bisa dengan fokus ke pekerjaan atau sekolah yang sedang dijalani masing-masing. 

(mengapa 2 minggu?..Itu, sih, berdasarkan pengalaman saya aja..ha..ha..)

Atau, kita bisa mencari kesibukan baru. Karena, bisa jadi, kesibukan dunia kerja atau sekolah yang sekarang sedang dijalani tidak bisa mengalihkan perhatian pikiran kita darinya. Dunia yang sedang kita jalani sekarang sudah terlanjur banyak terisi oleh kenangan-kenangan bersamanya

Pasca putus itu, suatu hari, saya berbincang dengan teman lama. Tanpa sengaja, topik obrolan beralih ke pengalaman patah hati masing-masing. Saya ternyata masih membawa topik tentangnya saat itu.(ga sengaja, sih)

Sampai akhirnya, teman saya itu memberi saran, ‘Loe kan hobi masak, masak lagi aja. Coba-coba resep baru, gih..’ Gitu kata temen saya. Lalu, saya ikuti sarannya. Betul, euy..Ada kesenangan sendiri ketika kita menemukan kesibukan baru, meski yang ditemukan adalah hobi kita yang lama. 

Pikiran kita jadi teralihkan. Belum sepenuhnya, memang. Tapi, minimal dalam sehari itu, segala tentangnya ga terlalu memenuhi pikiran dan hati kita. 

Yup!

Sepertinya waktu itu saya cuma melakukan keenam hal itu aja, deh. Apa saya lupa, ya? Nanti, kalau saya ingat lagi, saya tambahkan. :-))

Yang pasti, ketika di-phk, kita menyayangkan hilangnya hubungan kita dengannya. Apalagi, mungkin, sang mantan ini termasuk salah satu teman dekat kita.Yang tadinya sedekat nadi, kini jadi orang asing yang tidka kita kenal.  

Tapi, apa mau dikata? Kita tak bisa memaksakan seseorang untuk mencintai kita. Kita juga tak bisa memaksakan seseorang untuk melakukan hal yang dia tak kehendaki. Iya, kan?

Bayangkan juga seandainya kita ada di pihak sebaliknya. Tentunya, kita juga tak mau dipaksa untuk mencintai seseorang yang tidak kita cintai.

Kita harus kuat untuk menerima kenyataan dan berhenti untuk berandai-andai. Apalagi berandai-andai dia akan bersimpuh dan merengek-rengek memohon untuk kembali merajut hubungan dengan kita. Suatu saat, bisa jadi hal itu akan menjadi kenyataan. Tapi, untuk saat ini, yang harus kita lakukan adalah cepat keluar dari rasa sakit yang sangat menyiksa ini. 

Karena, rasa sakit karena patah hati itu sangat menghancurkan. Tidak berlebihan jika dikatakan demikian. 

Karena yang menderita sakit adalah diri kita sendiri, jadi ya kita harus fokus ke diri kita sendiri. Apakah Si Dia merasa sakit juga? Who knowsWho cares?..ha..ha..Sekarang, dia hanyalah orang yang tak ada hubungannya dengan kita, Orang asing yang tak kita kenal

Fokus ke diri sendiri. Kita sedang sakit, jadi semestinya memang berusaha memulihkan diri sendiri. Jangan abaikan perhatian orang-orang di sekeliling, seperti keluarga ataupun teman. Karena, merekalah yang ada ketika kita merasa ‘hancur’. Sedangkan Si Dia? Bukankah dia malah yang menimbulkan penyakit ini? Jadi, selayaknya memang ga pantas untuk mendapat perhatian kita.

Ha..ha..Saya sekarang bisa berbicara tentang semua ini dengan hati yang ringan dan senang. Karena, bisa jadi, karena saya sudah sembug. Untuk melupakan secara total? Belum, mungkin, ya? Karena, kan, buktinya sekarang saya bercerita tentang dia. 😀

Tapi, saya ambil pengalaman ini untuk dijadikan pelajaran. Kita juga tidak harus menutup diri untuk kemungkinan-kemungkinan cinta selanjutnya yang bakal menghampiri. Tapi, bukan berarti langsung pula membuka hubungan baru dengan yang lain. 

Sembuhkan dulu sakit hatinya. Ambil waktu kita.Tak perlu tergesa-gesa atau memaksakan diri. Tetapi kita harus tegas bahwa kita harus ‘mup on‘. Jadi, ketika kita membuka hubungan baru, hati kita sudah kuat dan pulih seperti sedia kala.

Yuk, kita sembuhkan dulu hati kita. Untuk selanjutnya, kita serahkan pada Sang Waktu. Karena, bukankah waktu bisa menyembuhkan segalanya? 

😉

Sharing is caring!