#Salahsayaapa Kata CeweGendut Penimbun Masker Saat Dibully Netizen?

#Salahsayaapa Kata CewekGendut Penimbun
Ilustrasi

Pernah mencoba membeli masker medis dan hand sanitizer pada bulan Maret 2020, saat Covid-19 mulai mewabah di Indonesia? Saya pernah.

Hasilnya nol besar karena setiap apotik atau toko yang saya masuki mengatakan stok tidak tersedia. Meski demikian ada satu apotik di Kota Bogor yang masih memiliki stok, tetapi harganya luar biasa sekali,  485 ribu rupiah untuk satu kotak isi 50 lembar. Padahal, pada hari biasa, selembar masker dijual eceran 1000 rupiah di stasiun Commuter Line.

Benar-benar tidak terjangkau. Saya memutuskan untuk pada akhirnya tidak membeli karena harganya hanya akan membuat keuangan keluarga terganggu berat. Kesal, tetapi apa daya karena di masa pandemi Corona , menghemat keuangan harus dilakukan mengingat banyak ketidakpastian.

Perasaan yang sama seperti saya itulah yang menyebabkan para netizen di Twitter atau Tuips seperti “ngamuk” dan membully satu akun yang mereka anggap sebagai penimbun masker.

Sebuah akun Twitter bernama “Cewek Gendut” (@ganghwacho23)  hari menawarkan via Twitter puluhan karton masker medis dari beberapa merek. Tentunya, dengan tambahan kata-kata sakti ” Twitter please do your magic”.

#Salahsayaapa Kata CeweGendut Penimbun Masker  Saat Dibully Netizen?

Dua puluh lima karton dimana setiap karton berisi 40 box, alias ada 1000 box yang ditawarkan.

Jumlah yang luar biasa banyak di masa dimana arus suplai masker seperti tersendat dan bahkan banyak Rumah Sakit dan Tenaga Medis kekurangan, padahal mereka sangat memerlukan saat menangani pasien yang terinfeksi. Sudah pasti bukan untuk dipakai sendiri.

Tidak heran ratusan komentar langsung membanjiri postingan si cewegendut tadi. Bukan untuk menawar, tetapi untuk menghujat dan memberikan komentar pedas. Bagaimanapun, para penimbun masker seperti inilah yang membuat harga masker yang menjadi kebutuhan banyak orang naik tak terkendali.

Hasilnya, jutaan orang terpaksa tidak bisa melindungi dirinya karena ketiadaan barang.

Empunya akun yang tidak terima dibully para netizen mengeluarkan balasan sambil memasang tagar (hashtag) #salahsayaapa. Ia tidak merasa bersalah karena hanya berjualan. Ia pun memberi contoh banyak akun di media sosial lainnya yang menawarkan produk yang sama.

Balasannya justru memancing para Tuips untuk kembali membully si cewegendut dengan kata-kata yang bahkan lebih sadis dari sebelumnya. Ada yang mendoakan maskernya laku dengan harga 10 ribu/box (harga yang ditawarkan 185 ribu/box) , ada juga yang sampai mendoakan supaya si penjual terkena laknat.

Silakan ikuti perdebatannya di bawah ini.

Nah, pertanyaannya, apakah si ceweendut tadi tidak bersalah? Wajarkah netizen meluapkan kemarahan mereka? Apakah si ceweendut dipandang hanya sebagai penjual biasa?

Coba ditelaah seperti di bawah ini :

1. Jumlah Masker

Dua puluh lima karton yang masing-masing berisi 40 boks. Ada 1000 box masker yang setiap boks berisi 50 lembar.

Bukan sebuah jumlah yang wajar dewasa ini bahkan di saat normal sekalipun. Apotik di Kota Bogor bahkan banyak yang tidak memiliki stok dan menjatah pembelian maksimum hanya 5 lembar per orang. Itupun barang belum tentu ada.

Bagaimana dia bisa memiliki sebanyak itu dibandingkan apotik?

2. Peraturan

Tagar #salahsayaapa sebenarnya menunjukkan ketidakpahaman atau bahkan kebodohan dari yang bersangkutan.

Jelas salahnya banyak.

Pemerintah telah menyebutkan bahwa penimbunan barang pokok atau penting pada kondisi tertentu adalah tindak pidana. Mereka juga sudah mengatakan akan melakukan tindakan tegas pada para penimbun barang penting.

Lihat saja  Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan dimana disebutkan bahwa

pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga dan atau hambatan lalu lintas perdagangan barang, dipidana penjara paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp50 miliar

3. Satu kesalahan + satu kesalahan tidak menjadi satu kebenaran

Argumen pembelaan dari sang cewegendut tadi adalah banyak orang yang menawarkan barang yang sama dengan cara yang sama pula. Ia juga menekankan bahwa aturan hanya yang tertulis dan pada prakteknya di lapangan, banyak yang tetap berjualan seperti dia.

  • Peraturan sudah ada tentang penimbunan barang, siapapun yang melanggar berarti berbuat kesalahan dan melanggar hukum. Terlepas masih kurangnya penegakan hukum di Indonesia. Contohnya, rambu larangan parkir yang kerap dilanggar, tidak menjadikan peraturannya tidak berlaku. Peraturan tetap ada walau banyak pelanggar yang tidak tertangkap
  • Kalau banyak orang melanggar, tidak berarti peraturan yang ada yang salah dan yang melanggar jadi benar. Pelanggarnya tetap salah dan harus dihukum
  • Si cewegendut berbuat salah dalam hal ini, argumennya orang lain juga banyak yang berbuat salah. Ia mencari pembenaran dengan menunjukkan bahwa orang lain juga melakukan kesalahan. Satu orang salah + satu orang salah akan menjadi dua orang salah dan bukan satu kebenaran.

4.  Sisi Kemanusiaan

Di saat jutaan orang panik untuk berusaha melindungi dirinya, ratusan ribu tenaga kesehatan harus berjuang memakai peralatan kadang seadanya, si cewegendut tadi menyimpan barang dengan tujuan untuk menjualnya pada saat harga mahal. 

Ia mengharapkan profit sebesar-besarnya.

Dari sini saja terlihat bahwa si penjual tidak memiliki rasa empati dan sisi kemanusiaannya sudah hilang. Mereka mungkin tidak pernah terpikir bahwa tindakannya juga bisa membahayakan orang lain dan membantu penyebaran virus Corona.

Sudah seharusnya ia melepas barang dengan harga wajar. O ya, masyarakat juga akan maklum kalau kemudian harganya naik 10-40 persen dari biasanya, tetapi ketika harganya naik 1000-1500 %, hal itu sulit untuk bisa diterima.

Kalau dilihat dari sisi manapun, #salahsayaapa dari akun twitter cewegendut ini mencerminkan ego seseorang dan hanyalah sebuah usaha pembenaran apa yang dilakukannya untuk mencari keuntungan. Sesuatu yang tidak mengherankan mengundang reaksi keras dari para netizen yang juga sudah merasa kesal pada para penimbun masker di masa pandemi ini.

Usaha apapun yang dilakukan si penjual masker yang satu ini akan sia-sia karena kesalahannya memang sebenarnya terlihat jelas sekali. Satu hal yang mungkin bisa dilakukannya adalah diam dan tidak terus membalas komentar para netizen, karena kalau hal itu dilakukan, semakin lama respon yang didapat akan semakin keras pula.

Resiko menjadi seorang penimbun masker gagal. Bukan untung yang banyak, tetapi cacian yang banyak.

Sharing is caring!

2 thoughts on “#Salahsayaapa Kata CeweGendut Penimbun Masker Saat Dibully Netizen?”

  1. Wahhhh sayang banget ya mau untung malah buntung.. Ditambah kepercayaan orang juga malah runtuh, mau ngapa ngapain juga jadi susah karena kepercayaan yang mulai pudar itu..

    • Iyah… resiko dagang, cuma kan jadi rusak semua. Dagang pun kalau dimulai di saat yang ga tepat dan dengan cara yang salah, hasilnya malah buntung semua

Comments are closed.