Protein Jangkrik Hampir Sama Dengan Protein Daging Sapi

Protein Jangkrik Hampir Sama Dengan Protein Daging Sapi

Pernah tahu kuliner Jangkrik Krispi di Surabaya ? Belum, mungkin bisa disimak berita dari TransTV Surabaya di bawah ini.

Pasti akan banyak yang merasa geli untuk mau memakan serangga, seperti jangkrik sebagai makanan, baik cemilan atau utama. Bagaimanapun, dalam masyarakat yang terbiasa mendapatkan protein hewani dari telur, daging ayam, daging sapi, dan hewan berkaki empat lainnya, akan sangat sulit membayangkan harus mengunyah serangga .

Dalam bentuk apapun.

Cuma, sebenarnya serangga adalah salah satu hewan yang bisa menjadi penyedia protein hewani yang dibutuhkan manusia. Bukan hanya vertebrata (hewan bertulang belakang saja).

Bahkan, FAO (Food and Agriculture Organization, Badan PBB yang mengurus masalah pertanian dan pangan), sudah melakukan riset bersama dengan organisasi lainnya untuk menggali potensi serangga sebagai sumber makanan alternatif bagi manusia.

Diprediksi, dengan pertumbuhan populasi manusia seperti sekarang, ada masa dimana suplai makanan tidak lagi mencukupi. Apalagi, peternakan, dimana sapi, kambing, atau hewan pedaging berkaki empat biasa dikembangbiakkan, menghasilkan banyak gas rumah kaca yang berbahaya bagi atmosfer bumi.

Untuk itulah, potensi serangga terus digali sebagai sumber makanan manusia.

Alasannya? Pasti Anda tidak menyadari, dan mungkin tidak peduli, tetapi serangga menyediakan protein yang hampir sama seperti daging sapi (atau hewan pedaging berkaki empat lainnya).

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap beberapa serangga memberikan hasil yang mengejutkan. Daging jangkrik memiliki kadar protein yang hampir sama dengan daging sapi.

Satu kilo jangkrik menyediakan protein sebanyak 205 gram, sementara daging sapi 256 gram. Hanya selisih 20 persen saja. Perbandingan protein yang disediakan serangga-se rangga lain bisa dilihatdi The Scientist.

Baca JugaPunya Perut Kuat ? Coba Makanan Unik, Aneh, Dan Mengerikan Ala Siem Reap Kamboja Ini

Jadi, jangkrik krispi ala Surabaya sebenarnya sesuatu yang secara ilmiah bisa dibenarkan. Lebih ramah lingkungan karena efek gas rumah kaca lebih kecil, mengenyangkan, dan mengandung protein yang dibutuhkan manusia.

Anda mau coba?

Sharing is caring!