Profesi Blogger Bukan Sesuatu Yang Gampang

Profesi Blogger Bukan Sesuatu Yang Gampang

Profesi blogger itu sebenarnya ada dan tiada. Mayoritas anggota masyarakat, terutama di Indonesia, masih jauh dari menganggap kata blogger berkaitan dengan sebuah profesi, atau pekerjaan. Tidak akan ada orangtua yang berharap anaknya bercita-cita menjadi seorang blogger, mereka lebih suka cita-cita itu menjadi dokter, arsitek, tentara, dan lain sebagainya.

Blogger bagi banyak orang hanyalah julukan bagi orang iseng yang dianggap memiliki terlalu banyak waktu luang untuk menuliskan catatan mereka di dunia maya. Orang yang sibuk tidak akan punya waktu untuk melakukan hal itu, setidaknya begitulah pikiran banyak orang.

Dari sisi sini, profesi blogger itu tiada.

Di sisi lain, sudah terbukti di belahan dunia manapun, bahwa semakin hari semakin banyak orang yang bisa menghasilkan uang dari kegiatan menulis di blog. Tidak sedikit bahkan yang bisa membuat rekeningnya gemuk, penuh dengan angka nol memanjang. Bahkan, sudah banyak juga orang yang memeilih melepaskan pekerjaa sebagai karyawan atau pegawai dan menggantungkan hidupnya pada blog yang mereka kelola.

Dengan kata lain, di sisi yang ini, profesi blogger itu sudah ada, meski belum banyak dilakukan.

Biasanya memang masyarakat umum baru akan kaget dan terkagum-kagum, melihat mereka yang hanya duduk di depan komputer bisa membeli rumah, berjalan-jalan keluar negeri, bahkan punya mobil gres dari hasil menulis.

Pada saat itu biasanya juga hadir pikiran, “Enak amat tuh orang, cuma menulis apa saja bisa menghasilkan duit banyak beut!”.

Sebenarnya, pandangan yang seperti itu salah.

Profesi blogger bukanlah sebuah profesi yang gampang dilakukan. Sama saja dengan profesi lainnya, di dalamnya ada berbagai hambatan, tantangan, dan kesulitan yang harus dipecahkan oleh seorang blogger kalau dia mau sukses dan kaya raya.

Memang, yang terlihat oleh orang lain, sepertinya mudah sekali. Cukup membuka laptop, menulis artikel, dan kemudian uang datang.

Sayangnya, yang kelihatan itu hanya seupil dari berbagai hal yang jauh dari kata mudah yang biasa dialami seorang blogger.

Contohnya, seperti

1. Mencari ide 

Terlihat mudah, tetapi sebenarnya bisa jadi sangat sulit. Blogger harus banyak membaca, bergaul, dan bersosialisasi kalau mau gudang idenya tetap penuh.

Ide tidak seromantis yang diceritakan dalam cerpen dan mau muncul kapan saja. Terkadang seorang blogger harus berjuang memeras otak layaknya seorang pegawai kalau mau ada ide untuk bahan tulisan mereka

2. Melakukan promosi

Di zaman sekarang, dimana ada jutaan blogger, di Indonesia saja, kompetisinya sangat ketat. Tidak bisa hanya menulis dan kemudian berharap ada keajaiban langsung bisa terkenal. Kecuali, kalau pada dasarnya memang sudah terkenal, untuk bisa menjadi blogger terkenal butuh promosi.

Dan, itu semua juga butuh pemikiran dan usaha yang sangat keras. Banyak tantangannya.

3. Menulis Artikel

Tugas utama seorang blogger adalah membuat artikel untuk diposting di blognya.

Mudah? Kata siapa? Bagi yang sudah terbiasa memang terlihat gampang sekali melakukannya. Tetapi, sebenarnya jauh dari itu.

Satu artikel saja kadang butuh beberapa jam untuk bisa selesai dituliskan, mulai dari ide sampai ke tahap penerbitan. Hal itu terjadi karena biasanya blogger bersifat individu alias mandiri, semua hal mulai menulis sampai pengeditan harus dilakukan sendiri.

Bayangkan saja mengelola sebuah usaha media seorang diri. Mudah? Tidak mudah sama sekali.

4. Bernegosiasi

Memang terlihat enak bisa bepergian ke luar negeri dan dibayari oleh sponsor. Siapa tidak mau? Apalagi imbalannya gampang, yaitu cuma sekedar menulis dan mengulas produk dari sponsor.

Iya kan?

Tapi, pernahkah terbayang bahwa di balik semua itu ada negosiasi alot antara sang blogger dengan pihak sponsornya? Si sponsor pasti tidak mau rugi dan harus mendapatkan sesuatu dari uang yang dikeluarkannya untuk membayar tiket dan akomodasi si blogger di luar negeri tadi.

Dan, yang namanya negosiasi itu tidak mudah. Terkadang untuk mencapai kesepakatan butuh waktu dan perjuangan yang lama

5. Tidak Tahu Mau Kemana

Tahukah Anda bahwa seorang blogger itu sering kebingungan? Ia kerap dihadapkan pada pertanyaan, saya (blog saya) mau kemana arahnya?

Iya. Pertanyaan itu sering timbul, bukan hanya pada blogger pemula saja, tetapi yang sudah lama menekuninya juga sering bingung.

Mayoritas blogger belajar secara otodidak karena hobi dna passion. Mereka belajar tanpa bimbingan dan kerap hanya dari tulisan-tulisan lain dari sesama blogger. Tidak ada buku panduannya. Tidak ada pendidikan formalnya.

Bisa bayangkan beratnya belajar dan berusaha menemukan jalan tanpa ada bimbingan apapun?

Rasanya nyebelin.

6. Kegagalan Hal Rutin

Kalau tidak bisa menerima kegagalan dan bangkit lagi, saya sarankan jangan pernah mencoba berprofesi sebagai blogger.

Percuma.

Kegagalan itu adalah bagian dari kehidupan seorang blogger. Jangan pernah bayangkan hidupnya nyaman dan lurus-lurus saja.

Trafik pengunjung turun, komentar spam, komentar negatif, pengiklan yang semakin sedikit, pendapatan iklan yang menurun, sampai perubahan algoritma mesin pencari Google yang semakin tidak bersahabat bisa membuat blogger yang tidak tahan banting akan menangis dan memutuskan berhenti.

Betul. Bisa dikata kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari profesi blogger.

7. Dianggap remeh

Seperti sudah disebutkan di atas, masih banyak (sekali) anggota masyarakat yang memandang profesi blogger sebagai sebuah pekerjaan yang tidak ada gunanya. Tidak bisa dijadikan gantungan untuk mencari nafkah.

Belum lagi pandangan bahwa kegiatan ngeblog itu tidak ada gunanya dan hanya membuang waktu.

Pandangan remeh juga merupakan sesuatu yang harus diterima oleh siapapun yang mau menekuni profesi sebagai blogger. Dan, tentunya harus dimanage dengan baik, karena kalau tidak hasilnya akan membuat semangat menurun.

Sekali dua kali diremehkan bisa diterima, tetapi kalau puluhan kali, hasilnya adalah kepercayaan diri yang memudar.

8. Waktu kerja yang panjang

Kata siapa berprofesi sebagai blogger bisa santai karena jam kerjanya pendek? Pasti kalau ada yang berpikiran seperti itu tidak tahu bahwa seorang blogger harus belajar, melakukan riset, membaca banyak sumber, menulis, mengurus masalah teknis seperti mengatur desain template, promosi, negosiasi, dan banyak lagi lainnya.

Jam kerjanya bisa lebih panjang lagi kalau ditambah terkadang harus turun ke jalan, baik untuk berburu cerita seperti wartawan atau melakukan kunjungan ke event-event sponsor.

Kalau pegawai atau karyawan dibatasi oleh Undang-Undang No13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, waktu kerja blogger tidak diatur dalam UU itu. Kadnag mulai jam 6 sore, selesai jam 2 atau 3 dini hari, besoknya sudah mulai lagi.

Memang, semua terserah sang blogger untuk mengaturnya, tetapi sesuai dengan pepatah “Hasil tidak akan mengkhianati proses”, semakin keras kerja sang blogger, semakin besar kemungkinannya untuk sukses.

Profesi blogger tidaklah mudah dilakukan seperti yang dibayangkan banyak orang. Mungkin, kalau mau disamakan sama dengan pengusaha, dimana ia harus bekerja keras untuk mendapatkan hasil. Hasilnya pun akan bergantung pada seberapa keras kerjanya. Semakin keras ia berusaha, biasanya hasilnya pun akan semakin besar pula.

Yang paling berat adalah tidak ada kepastian akan keberhasilannya. Seorang yang berprofesi sebagai blogger tidak bisa menjamin bahwa dirinya akan selalu mendapatkan penghasilan yang sama setiap bulannya, seperti pegawai atau karyawan. Bisa saja bulan ini dapat penghasilan, bulan depan tidak ada sama sekali alias nol.

Dan, hal itu sangat berat di masa sekarang dimana kebutuhan hidup terus meningkat.

Jadi, jangan bayangkan profesi blogger hanyalah profesi ecek-ecek dimana cukup dengan ongkang-ongkang saja dan duit akan datang.

Kalau Anda berpikiran begitu, itu tandanya Anda belum pernah mengalami dan menekuni sendiri menjadi seorang blogger.

Sharing is caring!