Mau Menanam Pohon Buah di Atas Kepala? Serius?

Aduhhh..Besok pagi pasti akan tumbuh pohon jeruk di kepala,’ pikir saya semalaman karena tanpa sengaja menelan biji jeruk pada siang harinya. Alhasil, semalaman itu saya sama sekali tidak dapat tidur karena membayangkan di atas kepala saya akan tumbuh pohon jeruk.

Sebenarnya, ada perasaan senang juga, sih. Jadi, ketika nanti saya ingin makan buah jeruk, bukankah tinggal memetik buahnya saja? Dan, kalau orang tua, kakak-adik, dan teman-teman mau makan jeruk, bukankah akan lebih mudah? Saya hanya tinggal memetiknya dari atas kepala saya dan langsung memberikannya kepada mereka. Tak perlu repot-repot harus membeli dulu.

pohon apel

Tetapi, sebenarnya, pikiran seperti itu merupakan pikiran membujuk diri sendiri. Alih-alih merasa resah, saya jadi menenangkan diri sendiri dengan pikiran seperti itu.

Bagaimana tidak merasa gelisah? Bukankah saya nanti akan di-cap sebagai manusia aneh? Bagaimana kalau nanti upacara pada hari Senin yang mengharuskan memakai topi? Bagaiman dengan rambut saya? Nanti kalau pohonnya semakin tinggi dan besar, bagaimana bisa masuk rumah? Selamanya saya nanti akan berada di kebun.

Belum lagi ketika ditambah pemikiran bakal banyak burung yang hinggap di atas pohon itu nantinya. Mungkin, karena sibuk dengan pikiran-pikiran seperti itu, tanpa sadar akhirnya saya pun tertidur.

Dan, keesokan harinya, ketika bangun, hal pertama yang saya lakukan adalah meraba kepala saya untuk memastikan apakah sudah ada pohon jeruk yang tumbuh di sana. Merasa kurang yakin, saya pun menuju cermin. Dan, benar! Tak ada satu pun pohon yang tumbuh di sana. Lega!..:-D

Kejadian seperti itu seringkali saya alami semasa kecil dulu. Karena, selain biji jeruk, masih banyak biji-biji buah lainnya yang sering ikut tertelan. Biji anggur, apel, semangka. Dan yang paling sering juga paling mengkhawatirkan adalah biji kecapi. Karena, bukan gimana, ya? Setelah melihat pohon kecapi, saya membayangkan pohon sebesar itu tumbuh di atas kepala saya. Terbayanglah kesulitan-kesulitan yang bakal dialami nantinya.

Tapi, saat itu, setiap kali melihat saya merasa resah karena menelan biji buah-buahan itu, Ibu sering menenangkan, ‘Udah, gapapa, Neng! Nanti juga kalo BAB bijinya keluar.’ Tapi, meski Ibu sudah berkata seperti itu, tetap saja, saya pasti menghabiskan malam dengan membayangkan akan tiba saatnya panen buah-buahan di atas kepala.

Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi mempermasalahkan jika ada biji-biji buah-buahan yang tertelan. Karena, ternyata, apa yang dikatakan Ibu itu memang benar. Biji buah yang tertelan ikut keluar ketika saya BAB.

Dan, penjelasan ilmiahnya saya dapat ketika saya membaca Intisari, edisi Januari 2006. (lama beuddd!!!)..:-D

Jadi, di dalam perut kita terdapat asam lambung (HCl). Asam ini termasuk asam yang sangat kuat. Kekuatan asam yang ber-pH sekitar 1 -2 ini sedikit di bawah asam sulfat yang terkenal sebagai asam terkuat. Dengan kekuatannya itu, asam lambung mampu membunuh bakteri, sel hidup dalam makanan, dan juga membantu memecah protein. Asam lambung juga mampu memecah biji-bijian. Biji-biji yang tidak bisa dicerna lambung, akan dikeluarkan ketika kita buang air besar.

Penjelasannya seperti itu. Tapi, tentu saja, bukan berarti kita dapat menelan biji dengan sengaja. Karena bakal hancur atau keluar ketika BAB, kita lantas sengaja menelan biji salak ataupun biji kedondong. 😀 Karena, biar bagaimanapun, ujung-ujung biji yang keras dapat melukai usus ataupun lambung. Malahan, beberapa jenis biji yang berukuran kecil dapat menyebabkan usus buntu.

Tapi, sebenarnya kita dapat memakan biji salak, asalkan yang terbuat dari ubi rambat. Dan, misal mau memakan biji kedondong pun boleh saja, asal diblender terlebih dahulu. Ha..ha..

Nah, bagaimana? Masih berniat membuka agribisnis di atas kepala? Tentunya akan sulit, karena asam lambung akan menghancurkannya terlebih dahulu. 😀

^_^