Lain Kulkas Dulu, Beda Kulkas Sekarang

Lain Kulkas Dulu, Beda Kulkas Sekarang
lain kulkas dulu, beda kulkas sekarang

Lemari pendingin atau yang lebih kita kenal dengan sebutan kulkas atau lemari es, sekarang merupakan salah satu perabot rumah tangga yang sangat penting. Dulu, perabot rumah tangga satu ini termasuk barang mewah. Tetapi, saat ini, hampir setiap rumah tangga sangat bergantung pada keberadaannya.

Meski bentuknya sederhana, tetapi, kulkas/lemari es juga memiliki riwayat panjang. Mau tau ceritanya?..Penasaran?..Hi..hi..sok-sok bikin penasaran.

Jadi, begini ceritanya.

Riwayat ini dimulai pada masa sebelum Masehi. Pada waktu itu, orang-orang Romawi dan Yunani kuno memiliki kebiasaan mengawetkan daging dan makanan dengan cara menyimpannya di dalam es alam. Mereka mengangkut salju dar pegunungan dan menyimpannya di ruang khusus bawah tanah.

Di sana, es alam ‘diawetkan’ dengan cara diselimuti jerami. Itulah kulkas zaman dahulu. Ukurannya sangat besar dan tidak perlu lisrik. Kulkas zaman dulu tidak bisa membuat es, malah menghabiskan banyak es.

Sementara, di negara tropis yang tidak mengenal musim dingin, lain lagi ceritanya. Orang-orang India dan Mesir bisa membuat salju dengan cara penguapan cepat. Meski belum mengenal teori fisika, mereka telah tahu bahwa jika air diuapkan dalam tempo sangat cepat, uap yang terbentuk akan menyerap panas dari lingkungan sekitarnya. Ini menyebabkan udara di sekitranya menjadi dingin. Dan, uap air di sekelilingnya bisa berubah menjadi salju. Dengan cara ini, mereka dapat membuat salju di tengah malam yang dingin.

Teori penguapan cepat inilah yang mendasari penciptaan kulkas. Pada tahun 1748, seorang ilmuwan dari Inggris, William Cullen, adalah ilmuwan pertama yang memperagakan teknik ini di laboratorium. Bedanya, kali ini tidak menggunakan air, tapi etil eter, sebuah cairan yang sangat mudah menguap.

Selanjutnya, pada tahun 1805, seorang ilmuwan Amerika, Oliver Evans, merancang mesin pendingin pertama yang bekerja berdasarkan teknik penguapan cepat ini. Tetapi, ia belum sempat membuat kulkas sungguhan. Baru pada tahun, 1834, seorang ilmuwan Amerika lainnya, Jacob Perkins, berhasil membuat kulkas pertama dan mematenkannya. Inilah contoh model asli kulkas pertama setelah era ‘kulkas bawah tanah’.

Tahun 1856, Alexander C. Twinning, seorang pengusaha Amerika Serikat, mulai memproduksi kulkas untuk tujuan komersial. Sementara, di Australia, James Harrison, yang juga seorang pengusaha, menggunakan teknologi kulkas untuk sebuah industri pembuat bir. Pada saat bersamaan, kulkas pun menjadi salah satu perabot rumah tangga.

Pada tahun 1920-an, freon (diklorofluoro metana) ditemukan. Penemuan ini menandai babak baru teknologi pendinginan. Sebelum freon ditemukan, gas atau cairan yang digunakan sebagai pendingin adalah amonia. Tetapi, amonia bersifat toksik dan baunya menyengat. Maka, setelah freon ditemukan, amonia pun ditinggalkan. (sedihhhh..setelah dapat yang baru, yang lama ditinggalkan..lebaaayyy..:-D ) Freon pun segera semakin dikenal dengan berbagai kelebihannya.

Selang 40 tahun kemudian, freon mulai mendapat pesaing baru. Meski tidak beracun, freon diketahui dapat merusak lapisan ozon Bumi. Pada tahun 1960, para ilmuwan menemukan semikonduktor baru yang berkemampuan pendinginan. Salah satunya bismut telluride.

Jika dialiri listrik, suhu semikonduktor ini menurun. Para ilmuwan menyebutnya efek Peltier. Nama efek tersebut diambil dari nama ahli kimia Perancis, Jean Peltier, yang pertama kali menemukan fenomena tersebut pada tahun 1834.

Efek penurunan suhu inilah yang dimanfaatkan sebagai pendingin pada kulkas. Sejak saat itulah,bermunculan kulkas dengan jenis-jenis baru yang bebas freon dan diyakini lebih ramah lingkungan. Sampai saat ini, belum ada penemuan fenomenal lainnya dalam urusan pendingin. Berbagai inovasi umumnya berupa modifikasi dari model sebelumnya.

Sekarang, orang dapat minum air dingin tanpa harus membuka pintu kulkas. Dahulu, hanya dikenal kulkas satu pintu. Sekarang, ada kulkas dengan banyak pintu. Lebih canggih lagi, sekarang, ada kulkas yang dilengkapi dengan fasilitas internet. Entah apa lagi di masa yang akan datang.

Sumber : Intisari, Mei 2005

Leave a Comment