Nikmat Lalap Manakah yang Kau Dustakan?

Siapa, sih, yang tak kenal lalap?

Banyak orang yang menyukai satu santapan makanan itu.

Karena, lalap, baik yang mentah maupun yang masak, selalu menggugah selera.
Dan, ternyata, selain menggugah selera, lalap juga banyak mengandung khasiatnya, lho!

Bagi saya yang tinggal di tanah Sunda, lalap bukanlah sesuatu yang asing lagi. Tetapi, meski sudah menjadi makanan keseharian, bagi saya, lalap tetap selalu terasa nikmat. He..he..info tidak penting..:-))

Nikmat Lalap Manakah yang Kau Dustakan?

Seperti yang kita ketahui, lalap merupakan santapan yang mudah dijumpai karena banyak jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk lalap. Namun, tak sedikit orang yang menganggap hanya daun saja, bagian dari tanaman yang dapat dijadikan lalap. Tetapi, yang bisa dijadikan lalap, ternyata tidak hanya daunnya saja, lho!

Banyak tanaman yang hampir semua bagiannya dapat dijadikan lalap. Tanaman yang dimakan bunganya, seperti bunga turi, bunga kecombrang, dan bunga pepaya. Sedangkan, yang dimakan buahnya seperti paria, leunca, takokak, terung gelatik (bulat), tomat, mentimun, dan petai. Adapula yang dimakan umbinya, seperti wortel dan radis.

Selain lezat dan kaya gizi,banyak sayuran lalap yang berkhasiat obat. Banyak lalap yang mengandung vitamin B6, magnesium, dan mangan yang berperan penting dalam proses metabolisme sel.


Mangan (Mn) yang terdapat dalam sayuran lalap segar berperan dalam penyembuhan penyakit degeneratif, mencegah tekanan darah tinggi, juga mencegah menurunnya kerja metabolisme sel. Vitamin B6 berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Magnesium (Mg) berperan menyehatkan tulang dan gigi, mencegah serangan jantung, fungsi saraf dan otot.

Sayuran lalap juga mengandung serat tinggi sehingga dapat membantu penurunan kolesterol darah.

Lalap dapat dinikmati setelah dimasak atau masih mentah. Ada lalap tertentu yang bisa disajikan mentah dan dimasak.

Tetapi, adapula yang hanya bisa disajikan mentah atau hanya ketika sudah dimasak saja. Ada orang yang lebih suka makan lalap mentah. Dan, memang ada sayuran yang lebih nikmat jika disantap mentah. Misalnya, daun selada, kol/kubis, daun tespong, poh-pohan, kemangi. Sementara yang lainnya, harus dimasak dulu.

Lalap mentah relatif utuh kandungan gizinya, karena tidak rusak oleh proses panas pemasakan. Cucilah sayuran dengan air mengalir hingga bersih. Sementara, yang harus melalui proses pemasakan bertujuan menghilangkan/ mengurangi rasa langu, mengeluarkan rasa manis alami, atau menghilangkan zat racun (seperti asam sianida dalam daun singkong).

Oiya, lalapan dapat dimasak dengan cara :

Direbus :
Gunakan air sesedikit mungkin agar tidak banyak zat gizi yang terlarut. Masukkan sayuran setelah air mendidih. Jangan menutup panci ketika merebus sayuran, agar penampilannya tetap hijau segar. Segera siram dengan air es begitu sayuran diangkat dari panci.

Dikukus :
Sayuran yang dikukus lebih bagus gizinya karena zat gizi yang hilang lebih sedikit. Namun penampilan lalap kukus tidak secantik yang direbus. Masukkan sayuran setelah air dalam dandang mendidih.

Memasak menggunakan panci bertekanan (pressure cooker) :
Ketika menggunakan panci bertekanan, perhatikan tekanan dan lama memasaknya. Cukup dimasak dengan tekanan medium selama 3-5 menit supaya menghasilkan sayuran yang lebih renyah dan warnanya tetap bagus.

Disembam :
Disembam adalah cara memasak dengan cara membenamkan bahan masakan ke dalam abu yang panas (bahasa Sunda : dibubuy).
Dahulu, cara ini digunakan untuk memasak makanan berkulit, seperti singkong. Singkong dibenamkan ke dalam abu panas sampai masak.

Memasak sayuran untuk dijadikan lalap, seperti wortel, buncis, terung, paprika, labu siam, bisa dengan membungkus sayuran tersebut dengan kertas aluminium, lalu panggang dalam oven. Cara ini akan menghasilkan sayuran berasa manis, tetapi mengkerut/peyot.

Menikmati lalap memang tak pernah menimbulkan rasa bosan. Jika ingin menyajikan lalap, lebih banyak jenis, semakin baik. Paling sedkit, sajikan 3 jenis lalap. Untuk mengombinasikan lalap agar serasi, pilih sayuran yang berbeda tekstur, rasa, warna, dan juga bentuknya.

Misalnya, jangan menyajikan daun/pucuk pepaya dengan paria (yang telah dimasak) bersamaan, karena rasanya sama-sama pahit. Sajikan daun pepaya bersama pucuk/daun jambu mete atau beluntas. Usahakan memadukan sayuran beraroma tajan dengan yang beraroma lembut.

Itulah segelintir catatan tentang lalap. Meski dunia kulinari saat ini banyak diserbu dengan makanan-makanan modern, tetapi tetap..keberadaan lalap tak bisa tergantikan. Halah!..

^_^v

Sharing is caring!