Mencibir Laki-Laki Menangis, Anda Tidak Berperasaan

Mencibir Laki-Laki Menangis Anda Tidak Punya Perasaan

Seorang wanita menangis adalah hal lumrah dalam masyarakat. Pemandangan seperti ini biasanya akan mengundang simpati dan tidak sedikit yang akan ikut merasakan kesedihan.

Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi kaum adam. Tidak sedikit orang yang akan mencibir ketika melihat seorang laki-laki menangis. Alih-alih memberikan simpati, biasanya kata, “cengeng” akan keluar.

Padahal, seharusnya tidak demikian.

Bagaimanapun, cowok, laki-laki, atau pria tetaplah seorang manusia. Sama dengan wanita, kelenjar airmata juga ada di tubuhnya. Fungsinya juga sama, mengeluarkan air yang membasahi mata.

Pria juga sama seperti wanita, ia memiliki berbagai perasaan, seperti, senang, sedih, gembira, haru, dan sejenisnya. Tidak ada perbedaan dalam hal ini.

Yang membuatnya berbeda dan hal itu berimbas kepada perlakuan berbeda pada kaum pria dalam kaitannya dengan menangis adalah mindset atau pola pikir masyarakat.

Dalam berbagai masyarakat dimanapun, karena kekuatan fisiknya, laki-laki dipandang harus bertindak berbeda dengan kaum wanita. Ia harus menjadi pelindung yang gagah, kuat, serta tahan dalam berbagai cobaan.

Pria harus menjadi tangguh.

Sedangkan airmata sendiri dipandang sebagai bentuk kecengengan yang diartikan sebagai kelemahan. Yang seperti ini bertentangan dengan konsep tangguh, kuat, dan macho yang harus disandang seorang laki-laki.

Oleh karena itulah, masyarakat memperlakukan berbeda terhadap pria dan wanita dalam urusan menangis. Seorang anak perempuan yang sedang menangis akan dihibur, sementara seorang anak laki-laki yang sedang menangis akan ditegur, “Kamu jangan cengeng”.

Semua ini karena masyarakat (termasuk orangtua) berharap bahwa si anak laki-laki akan berkembang menjadi seorang pria yang kuat dan tangguh dalam segala situasi.

Padahal, dengan cara seperti ini, si anak laki-laki perlahan berusaha “mematikan” rasa sedih dalam hatinya karena dipandang sebagai kelemahan.

Sesuatu yang harusnya tidak terjadi karena bagaimanapun laki-laki adalah manusia juga. Mereka pada suatu waktu juga akan merasakan kesedihan, seperti kegagalan, atau kehilangan orang yang disayangi.

Jadi, tidak ada yang salah dengan seorang laki-laki yang sedang menangis. Wajar saja kalau ia tersedu-sedu ketika anak atau istrinya meninggalkannya atau sakit. Bukan sebuah hal yang harus dipandang berlebihan kalau seorang pria mengalirkan airmata karena putus dengan pacarnya.

Semua hal itu akan membuat hatinya sakit dan mendatangkan kesedihan.

Wajar saja jika semua itu terjadi.

Yang tidak wajar justru adalah ketika yang melihat kemudian merendahkan, meremehkan, dan bahkan mencibir laki-laki yang sedang menangis itu.

Artinya, orang-orang itu tidak punya perasaan dan tidak sadar bahwa laki-laki itu tetap manusia.

Sharing is caring!

Leave a Comment