10 Alasan Menjadi Ketua RT Tidak Mudah

10 alasan menjadi ketua rt tidak mudah

Banyak orang akan menolak ketika ditawari untuk menjadi Ketua RT (Rukun Tetangga) di lingkungan dimana mereka tinggal. Selain karena masalah kesibukan dan keterbatasan waktu, ada alasan lain yang melatarbelakanginya, yaitu karena menjadi Ketua RT itu tidak mudah.

Ada 10 alasan terkait hal itu, seperti

1> Wewenang terbatas

Rukun Tetangga adalah sebuah Lembaga Kemasyarakat Desa dan secara resmi bukan merupakan bagian dari sistem pemerintahan.

Oleh karena itu, wewenang yang ada pada Ketua RT-nya bersifat terbatas sekali. Mereka tidak memiliki kuasa untuk menjatuhkan sanksi kepada warga.

Pengambilan keputusan pun tidak bisa dilakukan sendirian dan harus mendapatkan persetujuan dari warga.

Kurangnya wewenang ini merupakan hambatan saat mencoba menerapkan atauran atau meminta warga ikut serta dalam kegiatan.

2> Dana terbatas

Setiap organisasi membutuhkan dana operasional. Begitupun sebuah RT. Kepengurusan RT akan membutuhkan dana untuk membeli peralatan, memperbaiki prasarana dan sarana yang rusak, dan banyak hal lainnya.

Sayangnya, ketersediaan dana bagi ke-RT-an sering sangat terbatas. Banyak warga yang merasa enggan bahkan sekedar membayar iuran bulanan.

Untuk menaikkan iuran pun tidak bisa dilakukan sekedar dengan keputusan Ketua RT saja, tetapi juga harus melewati musyawarah warga yang seringnya menolak.

Hasilnya, tidak sedikit Ketua RT yang harus memutar otak untuk memanfaatkan dana yang ada atau mencari dana tambahan.

3> Kepedulian warga kurang

Mayoritas warga memiliki aktivitas dan kesibukan masing-masing. Bagi banyak orang terlibat dalam kegiatan RT bukanlah prioritas, bahkan dipertimbangkan saja tidak.

Mereka lebih memilih bermain bersama teman dan keluarga, atau berada di dalam rumah daripada mengikuti kerja bakti.

Banyak Ketua RT pusing karena sikap tidak peduli warganya.

4> Keterbatasan Waktu

Tidak sedikit Ketua RT yang menjalankan tugas dengan keterbatasan waktu. Bagaimanapun, mereka juga harus mencari nafkah bagi keluarga dan kehidupan mereka sendiri, tidak beda dengan warga lainnya.

Oleh karena itu mereka memiliki waktu yang sangat terbatas. Tidak jarang di tengah pekerjaan rutin sehari-hari, mereka harus tetap melayani warga.

5> Dukungan pemerintah kurang

Bukan sebuah hal yang tidak umum kalau RT lebih sering bergerak sendiri. Meskipun secara formal mereka di bawah kendali pihak kelurahan, tetapi secara praktek, jarang sekali ada bimbingan dari pihak berwenang.

Kalaupun ada kunjungan dari kelurahan biasanya dilakukan kalau terjadi sesuatu yang khusus.

6> Terlalu banyak pikiran yang harus diakomodir

Banyak kepala banyak pikiran dan kemauan.

Bayangkan saja pusingnya mencoba menemukan titik temu yang bisa menyenangkan seluruh warga.

Dengan jumlah rata-rata 30-50 KK dalam setiap RT, maka akan begitu banyakk saran, masukan, dan keinginan warga yang harus diakomodir.

7> Organisasi pengurus minim komitmen

Memang selama menjalankan tugas sebagai Ketua RT, seseorang akan dibantu oleh tim pengurus, seperti sekretaris, bendahara, atau sie lainnya.

Tidak sendirian.

Namun, dengan masing-masing pengurus punya kesibukan, alhasil untuk mendapatkan komitmen menjalankan tugas menjadi sebuah hal yang susah dilakukan.

Tidak heran banyak kepengurusan RT yang pada akhirnya hanya bagus di atas kertas saja, tetapi realitanya, hanya Ketua RT-nya saja yang berfungsi dengan baik.

8> Sistem administrasi

Kurangnya bimbingan yang jelas dari organisasi di atasnya kerap membuat tugas Ketua RT menjadi semakin berat.

Ia harus berhadapan dengan warga yang membutuhkan informasi terkait prosedur kepengurusan dokumen kependudukan, padahal ia sendiri terkadang bingung dengan prosedurnya.

Tambahan lagi dalam organisasi kepengurusan RT tidak ada standar baku bagaimana administrasi harus dilakukan.

Hasilnya adalah kebingungan yang kerap bikin pening kepala Ketua RT.

9> Tanggung jawab berat

Siapa yang paling pertama disalahkan kalau ada masalah di lingkungan? Ya Ketua RT (dan timnya). Mereka dianggap pemimpin di wilayah tersebut.

Sayangnya, warga sendiri sering tidak memberikan informasi apapun tentang terjadinya sebuah masalah. Padahal, Ketua RT bukanlah paranormal yang bisa menebak, ia pun membutuhkan timbal balik dari warganya.

Tidak sedikit Ketua RT yang dipersalahkan dan dianggap tidak mampu, meski kesalahan sebenarnya dilakukan oleh warganya dan ia tidak mengetahuinya.

10> Kurangnya penghargaan/pendapatan

Uang adalah hal yang paling sering menjadi motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu dengan giat.

Sayangnya, sifatnya yang merupakan lembaga kemasyarakatan hanya memberikan imbalan kecil saja bagi seorang Ketua RT.

Imbalan terbesar dalam bentuk uang hanya ada di DKI Jakarta saja, tetapi di kota lain, biaya operasional untuk seorang Ketua RT adalah sangat kecil. Bahkan, ada yang tidak mendapatkannya dan dianggap kerja sukarela saja.

Padahal, beban pekerjaan dan pikirannya tidak berbeda dengan seorang manajer.

Bagaimana bisa merasa termotivasi ketika penghargaan atau imbalannya kurang?

Oleh karena itu, jika Anda hendak menjadi Ketua RT ada baiknya mempertimbangkan lagi. Tugas yang diembannya tidak seringan yang dibayangkan.

Kecuali, jika di dalam hati ada niat untuk mengubah lingkungan dimana Anda tinggal menjadi lebih baik, dan siap bekerja sukarela, tugas Ketua RT mungkin cocok untuk Anda.

Sharing is caring!