Jenis Pelanggaran Lalu Lintas Yang Banyak Terjadi Di Pertigaan Jalan Wahid Hasyim Depan Hotel Cemara

Jenis Pelanggaran Lalu Lintas Yang Banyak Terjadi Di Pertigaan Jalan Wahid Hasyim Depan Hotel Cemara

E-tilang stau tilang elekronik sepertinya sangat berpengaruh pada tingkah laku pengemudi. Efek jera tanpa kompromi bagi pelanggarnya, kalau menurut berita di beberapa media massa lumayan berhasil membuat mereka menjadi lebih tertib.

Buktinya, kalau menurut berita DETIK, terjadi penurunan pelanggaran lalu lintas setelah tilang elektronik diterapkan di ruas jalan Sudirman dan Thamrin, Jakarta.

Melihat kefektifan sistem penilangan yang berlaku 1 Februari 2020 ini, rasanya tidak ada salahnya sistem yang sama dilakukan juga di jalan-jalan lain ibukota. Kesemrawutan jalanan di ibukota justru lebih banyak terjadi di ruas jalan yang jarang dipatroli oleh pihak yang berwajib.

Salah satunya adalah pertigaan (atau perempatan) Jalan Wahid Hasyim yang mengarah ke stasiun Gondangdia, tepat di depan Hotel Cemara.

Berbagai pelanggaran lalu lintas sudah dianggap biasa karena rutin terjadi setiap waktu, bukan setiap hari, karena tidak pagi, siang, sore, malam, berbagai pelanggaran lalu lintas terus terjadi.

Baca juga :  Pak Polisi, e-Tilang Harus Hadir Di Pertigaan Wahid Hasyim Depan Hotel Cemara Nih!

Berdasarkan pengamatan, ada beberapa jenis pelanggaran lalu lintas yang sering dilakukan oleh pengendara mobil atau sepeda motor, seperti di bawah ini :

1. Menerobos Lampu Merah

Jenis Pelanggaran Lalu Lintas Yang Banyak Terjadi Di Pertigaan Jalan Wahid Hasyim Depan Hotel Cemara

Pejalan kaki harus hati-hati kalau mau melewati zebra cross saat lampu merah menyala. Sudah biasa kalau para pengendara seakan buta warna. Meski lampu merah sudah menyala, tetap saja kendaraan akan melaju kencang.

2. Pelanggaran Marka

Rasanya sih, di wilayah ini buang-buang uang saja untuk membeli cat. Marka lalu lintas yang ada seperti tidak ada fungsinya sama sekali.

Jangankan garis tidak putus-putus langsing yang menandakan tidak boleh menyusul, zebra cross yang sudah jelas dan lebih besar saja seperti tidak dianggap oleh pengendara

3. Tidak memakai helm

Pengendara di kawasan yang satu ini termasuk jagoan karena lumayan banyak yang merasa kepalanya sangat kuat sehingga tidak perlu  memakai helm.

4. Melawan Arus

Terutama dari arah jalan Sabang, jalan yang seharusnya satu jalur, sering dipaksa harus menangani dua arah karena para pengemudi malas untuk berputar melalui jalan Kebon Sirih. Hasilnya tidak jarang ada mobil harus berhadapan dengan mobil atau sebaliknya karena ada yang berkendara melawan arus.

5. Berkendara di Trotoar

Bagaimana supaya tidak melawan arus? Gampang kata para pemotor bengal di kawasan ini mah, mereka naik ke trotoar.

Bollard yang terpasang masih memberikan celah yang cukup bagi pengendara motor untuk masuk dan mereka memanfaatkan itu.

Sayangnya, jarang sekali petugas yang mengawasi kawasan ini. Padhaal, biasanya situasi lebih terkendali kalau ada petugas, baik dari kepolisian atau Dinas Perhubungan.

Oleh karena itu, rasanya kalau e-tilang atau tilang elektronik dipasang di sini, rasanya situasinya akan sedikit lebih terkendali. Maklum saja, berat mengeluarkan 250-750 ribu dan tanpa bisa bernegosiasi.

Pernah datang ke kawasan ini? Kalau mau melihat, harap berhati-hati saat menyeberang.

Sharing is caring!