7 Alasan Orang Malas Menjadi Pengurus RT Atau RW

Alasan Orang Malas Menjadi Pengurus RT Atau RW

Bicara soal jabatan, biasanya orang-orang akan berebut untuk mendapatkannya. Tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan prioritas atau kesempatan menjadi seorang pejabat. Tidak terhitung juga yang bahkan menggunakan cara-cara tidak halal dan aneh untuk memastikan sebuah jabatan menjadi miliknya.

Menjadi seorang pejabat selalu diharapkan dapat memberikan keuntungan materi dan status sosial kepada siapapun yang berhasil menyandang gelar “pejabat” itu.

Cuma, ternyata tidak semua. Ada satu jenis jabatan, yang tidak jarang diperebutkan oleh orang. Bahkan, banyak orang akan berusaha mencari cara untuk tidak terpilih dan mendapatkan jabatan itu. Padahal, jabatan itu penting karena merupakan ujung tombak dari sistem pemerintahan di Indonesia.

Nama jabatan itu adalah Ketua dan Pengurus  RT (Rukun Tetangga) atau RW (Rukun Warga).

Coba saja perhatikan sendiri masyarakat di lingkungan dimana Anda tinggal saat pemilihan dilakukan. Mereka akan mencari alasan untuk tidak diajukan sebagai calon dan tidak sedikit yang memilih tidak datang ke acara tersebut supaya tidak bisa diajukan sebagai calon.

Alasan utama yang diajukan adalah tidak punya waktu, tidak punya kemampuan, sibuk dan sejenisnya, tetapi alasan mayoritas orang malas menjadi pengurut RT adalah :

1. Tidak ada uangnya

Di zaman materialistis seperti sekarang, dimana segala sesuatu dihargai dengan uang, jabatan Ketua RT/RW bukanlah jabatan yang menarik. Bagaimana tidak, mayoritas Ketua RT/RW (kecuali di Jakarta) tidak mendapatkan gaji.

Adapun dana bantuan besarnya bahkan kadang tidak cukup untuk membeli 1 cangkir kopi di Starbuck perbulannya.

2.  Menghabiskan waktu

Akhir pekan biasanya dipakai banyak orang untuk beristirahat, tetapi tidak buat pengurus RT. Terkadang baru saja santai di rumah, akan datang warga, baik untuk minta surat keterangan atau meminta bantuan ini dan itu, termasuk curhat dan komplen.

Waktu yang seharusnya untuk beristirahat sering habis untuk mengurus yang seperti ini

3. Gangguan banyak

Mau berangkat ke kantor, ada warga yang tergopoh-gopoh minta dibuatkan surat pengantar. Padahal, kita sendiri sudah mepet waktunya dan bisa terlambat ke kantor. Pulang kerja, sering warga sudah menanti untuk berbagai hal.

Sulit untuk menjadi tenang kalau menjadi pengurus RT/RW

4.  Masalah banyak

Hidup sendiri saja masalah sudah banyak, nah bayangkan saja kalau dalam satu RT ada 30-50 Kepala Keluarga. Hasilnya, masalah akan silih berganti datang.

Mulai dari warga yang terkena penyakit DBD, pertengkaran antar tetangga, keributan dalam keluarga, kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi lainnya. Semua harus dihadapi setiap waktu.

Jangan harap hidup tenteram kalau menjadi pengurus RT karena suka atau tidak suka, masalah itu akan datang dengan sendirinya

5. Minim penghargaan

Jangan bayangkan bahwa pengurus RT akan dihormati dan disambut layaknya pejabat. Yang ada banyak warga yang beranggapan bahwa mereka adalah pesuruh yang harus mau disuruh warga.

Prinsip “Benar saja dikomplen, apalagi salah” akan selalu mengikuti langkah pengurus RT dimanapun.

6.  Sering terpaksa mengeluarkan uang sendiri

Jangankan dapat yang gaji, banyak pengurus RT yang terkadang harus nombok dari kantong pribadi untuk memastikan roda “pemerintahan” di lingkungan berjalan.

7.  Tanggung jawabnya besar

Dipandang remeh memang, tetapi ketika ada kehilangan atau masalah got yang mampet, pengurus RT lah yang akan dicari warga untuk diminta pertanggungjawaban. Bukan Pemda atau Dinas Kebersihan.

Padahal, kadang yang meminta pertanggungjawaban juga sering lupa bayar iuran RT.

Nah, itulah kenapa kebanyakan orang akan mencari dalih apapun agar terhindar dari jabatan sebagai pengurus RT/RW. Lebih banyak dukanya dibandingkan sukanya.

Pengalaman 3 kali menjabat sebagai pengurus RT di lingkungan dimana saya tinggal lah yang menunjukkan ke 7 alasan tadi. Cuma karena niat ingin membuat lingkungan nyaman dan bersih lah yang mendorong saya mau terlibat dalam kepengurusan RT. Meski terasa menyebalkan, suka atau tidak suka hal itu harus dilakukan.

Sharing is caring!