Pemerintah mengingatkan Pertamina untuk tetap konsisten mengikuti kebijakan yang sudah ditetapkan untuk wajib B-20 atau Biodiesel-20 pada tahun 2016.
Kebijakan ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan ketika saat pertama kali ditelurkan, 2009, dimana saat itu masih berada pada level B-7,5.
Apa itu Biodiesel? Mengapa pemerintah begitu getol mempromosikan biodiesel di dalam negeri? Apa manfaat dan keuntungan menggunakan biodiesel?
Penjelasan singkat dari Celoteh Hijau di bawah ini, mungkin bisa membantu Anda memahami kebijakan pemerintah mendorong penggunaan biodiesel lebih banyak lagi.
Pengertian Biodiesel atau Biosolar
Untuk menghindari kebingungan, kedua istilah ini kami sandingkan saja karena keduanya merujuk pada hal yang sama, Bahan Bakar Untuk Mesin Diesel.
Pada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) kata “biosolar” lah yang terpampang. Tetapi, dalam banyak pembahasan secara teori, terkadang banyak yang menyebutnya dengan biodiesel. Yang manapun keduanya mengacu pada benda yang sama.
Biodiesel adalah sebuah istilah bagi bahan bakar mesin diesel yang berasal dari sumber nabati atau hewani. Sebelum tehnologi biodiesel ditemukan itu, solar biasanya hanya berasal dari pengolahan minyak bumi.
Setelah tehnologi ini ditemukan, sifat solar yang berasal dari minyak bumi ternyata juga bisa diimitasi dengan melakukan pemrosesan terhadap minyak yang berasal dari tanaman. Beberapa tanaman yang bisa menghasilkan hal tersebut diantaranya adalah jagung, kelapa sawit, dan juga “jarak”.
Sejauh ini, secara teori biodiesel murni (B-100) dapat dipergunakan langsung sebagai bahan bakar. Meskipun demikian, rentannya terhadap pembekuan dalam suhu rendah membuatnya sejauh ini masih sebagai bahan campuran dengan solar yang berasal dari minyak bumi.
Oleh karena itulah ada kode yang diberikan pada biodiesel atau biosolar yang diberikan, seperti B-7,5 atau B-20, atau B-30. Angka di belakang “B” menunjukkan komposisi solar nabati yang dicampur dengan solar minyak bumi. Sebagai contoh : B-20, berarti 80% solar yang berasal dari minyak bumi dan 20% biosolar (alias nabati)
Apa keuntungan menggunakan biodiesel atau biosolar? Mengapa banyak negara mendorong penggunaannya?
Jangan salah. Sebenarnya bukan hanya pemerintah Indonesia yang mendorong penggunaan bahan bakar nabati ini. Sudah banyak negara yang menerapkan kebijakan serupa dimana penggunaan bahan bakar yang bisa diperbarui ini akan terus didorong.
Brasil sejauh ini merupakan yang paling maju dalam penggunaannya. Bahan bakar solar di negara penyelenggara Olimpiade 2016 ini mentargetkan B-25 di tahun 2020. Sejauh ini levelnya baru mencapai B-20.
Mengapa banyak negara di dunia mendorong penggunaan biodiesel atau biosolar ini?
1. Persediaan minyak bumi menipis
Tidak bisa disangkal, kandungan minyak bumi di berbagai belahan dunia semakin menipis. Bahkan di Indonesia, sudah sulit sekali menemukan kandungan emas hitam yang baru.
Kesemua ini terjadi karena minyak bumi adalah berasal dari fosil yang membutuhkan jutaan tahun untuk membentuknya. Pemakaian yang terus menerus seperti sekarang sudah pasti akan membuatnya segera habis.
Diprediksi dalam 50-100 tahun mendatang, akan tiba saatnya dimana dunia akan kesulitan karena minyak bumi akan habis. Kalaupun ada suatu waktu harganya akan meroket dan tidak terjangkau oleh banyak negara.
2. Bahan yang bisa diperbaharui
Berbeda dengan minyak bumi, biodiesel bisa diperbaharui. Untuk menghasilkan bahan bakar nabati ini tidak memerlukan proses alami jutaan tahun. Selama tanaman penghasil biji yang bisa diproses tersedia, maka biodiesel akan bisa dihasilkan.
3. Semua negara bisa memproduksinya
Selama ini banyak negara sangat tergantung pada suplai minyak bumi dari negara-negara OPEC. Jika disempitkan lagi, maka kebanyakan minyak bumi berasal dari Timur Tengah.
Berbeda dengan biodiesel, semua negara, selama ada pertanian untuk menghasilkan bahan yang diperlukan, bisa menjadi penghasil. Dengan begini maka tidak ada lagi ketergantungan terhadap negara tertentu untuk mendapatkan sumber energi
4. Lebih sedikit emisi gas buang
Berdasarkan hasil penelitian, gas buang yang dihasilkan mesin berbahan bakar biodiesel menghasilkan 78% emisi lebih sedikit dibandingkan yang memakai solar konvensional.
Sesuatu yang sangat membantu mengurangi polusi udara yang semakin meningkat ini.
5. Tidak mengandung sulfur
Mengapa tidak mengandung sulfur itu baik? Karena bahan ini merupakan salah satu penghasil hujan asam. Sesuatu yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia sekarang dan di masa yang akan datang. Bahan ini ternyata tidak terkandung di dalam biodiesel.
6. Biodegradable (Terurai Secara Alami)
Apakah ada kerugian menggunakan biodiesel atau biosolar?
Tidak ada sesuatu yang sempurna dan tanpa kelemahan. Pemakaian biodiesel sendiri juga memiliki beberapa kelamahan yang bisa merugikan.
Bukan hanya bagi si pemakai tetapi juga efeknya terhadap lingkungan.
1. Menghasilkan Nitrogen Oksida
Pembakaran dengan menggunakan biosolar menghasilkan Notrogen Oksida. Gas ini terkenal sebagai gas rumah kaca dan juga berpotensi menghasilkan kabut asap.
2. Memiliki titik beku yang lebih rendah
Dibandingkan dengan solar konvensional, biosolar murni memiliki titik beku yang lebih rendah. Hal ini kalau di kawasan bercuaca dingin bisa menghasilkan masalah karena bahan bakar bisa membeku di dalam mesin.
3. Lebih mahal
Sejauh ini untuk menghasilkan biodiesel ongkosnya masih di atas biaya yang diperlukan untuk mengolah minyak bumi menjadi solar. Secara ekonomis tentunya akan memberatkan pembeli.
Oleh karena itulah, Pertamina juga meminta agar operator SPBU swasta juga harus menggunakan B-20. Kalau tidak maka harga mereka akan sulit bersaing dengan operator swasta/asing
4. Kandungan energi yang lebih sedikit
Penelitian juga menunjukkan energi yang dihasilkan oleh biodiesel sekitar 11% lebih rendah dibandingkan solar biasa. Dengan kata lain, butuh lebih banyak biodiesel untuk menghasilkan sesuatu yang sama.

